Eksistensi Apoteker dalam Kolaborasi Interprofesional Pada Era JKN

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatori) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN. Tujuan program ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah. Program JKN merupakan bentuk upaya pemerintah Indonesia dalam memenuhi komitmennya untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC), yang mana komitmen ini dibuat oleh tidak hanya Indonesia, tetapi juga oleh semua negara anggota WHO lainnya pada momen Resolusi World Health Assembly (WHA) ke-58 tahun 2005 di Jenewa. Program JKN juga adalah bagian dari Program Indonesia Sehat. Program Indonesia Sehat sendiri merupakan program dari Agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia, bersama ketiga program lainnya yaitu Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan Program Indonesia Sejahtera. Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama, yaitu (1) penerapan paradigma sehat, (2) penguatan pelayanan kesehatan, dan (3) pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Melalui program ini, setiap penduduk Indonesia yang terdaftar berhak memperoleh manfaat jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan perorangan, mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Berdasarkan data BPJS Kesehatan per tanggal 1 April 2018, diketahui bahwa terdapat 165 juta jiwa penduduk Indonesia yang sudah menjadi peserta JKN. Jumlah ini sekitar 75% dari total penduduk Indonesia. Pemerintah sendiri menargetkan bahwa pada Januari 2019, 95% atau sekitar 257,5 juta jiwa penduduk Indonesia sudah menjadi peserta JKN. Indonesia masih perlu mengupayakan penambahan jumlah peserta sebanyak 20%  lagi untuk dapat mencapai target tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta JKN, menjadi salah satu faktor yang amat dipertimbangkan oleh calon peserta untuk mau mendaftarkan diri. Tenaga-tenaga kesehatan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan baik dalam memberikan pelayanan kepada pasien, selain juga penghapusan tindakan diskriminatif terhadap pasien peserta JKN, bukan tidak mungkin akan mengundang lebih banyak masyarakat Indonesia untuk mau mendaftarkan diri sebagai peserta JKN.

Di antara tenaga kesehatan yang memainkan peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan di era JKN ini, apoteker adalah salah satunya. Apoteker merupakan tenaga kesehatan yang berperan penting dalam menjalankan asuhan kefarmasian, yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab apoteker secara langsung pada pekerjaan kefarmasian yang bertujuan memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Apoteker kini tidak hanya melakukan pekerjaan dalam peracikan dan penyaluran obat, tetapi berfokus pada pengobatan untuk hasil yang definit bagi kesembuhan pasien, seperti: pengobatan penyakit, mengeliminasi atau mengurangi gejala, serta penghentian dan pencegahan penyakit.

Pelayanan pasien yang dilakukan untuk upaya preventif, kuratif, dan promotif tidak dapat dilepaskan dari kesuksesan kolaborasi interprofesional yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Interprofesionalitas didefinisikan sebagai pembangunan praktik yang kohesif antarprofesi dalam bidang yang berbeda, yang memungkinkan tenaga kesehatan untuk dapat berefleksi dan menemukan praktik yang menyediakan jawaban bagi kebutuhan pasien. Apoteker sebagai anggota dari kolaborasi interprofesional tenaga kesehatan menawarkan berbagai pelayanan di berbagai area, seperti rekomendasi dosis dan administrasi, panduan untuk pengobatan, indikasi yang diterima dan off-label indication, interaksi obat, dan duplikasi (Albanese dan Rouse, 2010). Dengan berinteraksi bersama anggota tim lainnya, apoteker mampu meningkatkan pelayanan pasien lewat pengoptimasian terapi obat dan penentuan keputusan bersama yang mengacu pada disiplin ilmu dari masing-masing tenaga kesehatan hingga memberikan pelayanan pasien yang komprehensif dan maksimal.

Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, kolaborasi interprofesional tenaga kesehatan penting untuk menunjang keberhasilan terapi yang pasien dapatkan. Namun pada kenyataannya, tenaga kesehatan di Indonesia saat ini masih belum dapat berkolaborasi dan bekerja sama dengan baik dan optimal. Pembiasaan untuk berkolaborasi secara interprofesional juga seharusnya diterapkan sedini mungkin agar mahasiswa terlatih untuk mengambil peran dalam suatu kelompok, memberikan kontribusi pada kelompok, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta mampu berpendapat dan berdiskusi untuk tujuan yang sama baik dengan teman satu profesi maupun dengan interprofesi.

Penerapan sistem interprofessional education (IPE) di Indonesia dalam pendidikan kesehatan sendiri sudah  mulai dimasukkan dalam suatu kurikulum dan telah dicanangkan oleh pemerintah tetapi masih terbatas pada beberapa perguruan tinggi di daerah jawa, salah satunya adalah Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Untuk sebagian universitas, penerapan kolaborasi interprofesional baru diterapkan pada masa kuliah kerja nyata (KKN) seperti di Universitas Brawijaya. Permasalahan juga terletak pada belum optimalnya pelayanan yang diberikan oleh apoteker kepada pasien. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya jumlah apoteker di puskesmas seluruh Indonesia, yaitu hanya berjumlah 17,5 % saja, dengan kualitas pelayanan yang hanya sebesar 26,6%. Padahal pelayanan apoteker yang baik juga merupakan kunci kesuksesan kolaborasi interprofesional.

Pada era JKN, selain penghapusan tindakan diskriminatif terhadap pasien peserta JKN, tenaga kesehatan yang kompeten serta kemampuan kolaborasi yang baik antartenaga kesehatan dalam upaya memberikan pelayanan yang optimal, menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tercapainya target 95% peserta JKN pada tahun 2019. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa apoteker dalam kolaborasinya bersama tenaga kesehatan lain juga memainkan peran kunci. Diharapkan pembelajaran IPE dapat dilaksanakan di seluruh universitas di Indonesia agar mahasiswa kesehatan terbiasa dengan kolaborasi interprofesi, sehingga menjadi tidak gagap ketika sudah terjun langsung ke dalam dunia kerja. Selain itu, kita sebagai calon apoteker diharapkan mampu memantaskan diri agar nantinya dapat memberikan pelayanan terbaik untuk pasien. Pemerintah juga harus mendukung perbaikan kualitas apoteker dengan pemerataan kualitas pendidikan perguruan tinggi farmasi serta pemerataan pada apoteker di tiap daerah di Indonesia, sehingga ke depannya apoteker dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan yang merata di seluruh Indonesia demi terwujudnya Indonesia sehat seperti yang telah dicita-citakan.

Sumber Gambar:
http://www.jkn.kemkes.go.id 


Referensi:
Castelberry, A., Hutchison L.C. (2018). The Pharmacist’s New Role as Part of an Interdisciplinary Care Team. Disadur dari https://www.asaging.org/blog/pharmacists-new-role-part-interdisciplinary-care-team (20 November 2018).

Departemen Kesehatan Indonesia. (2017). Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Disadur dari http://www.depkes.go.id/article/view/17070700004/program-indonesia-sehat-dengan-pendekatan-keluarga.htmlIndonesia. (19 November 2018).

Hashemian, F., Emadi, F., Roohi, E. (2016). Collaboration between pharmacists and general practitioners in the health care system in the Islamic Republic of Iran. Disadur dari http://www.emro.who.int/emhj-volume-22-2016/volume-22-issue-6/collaboration-between-pharmacists-and-general-practitioners-in-the-health-care-system-in-the-islamic-republic-of-iran.html (20 November 2018).

Herman, Max Joseph. (2013). Hubungan Ketersediaan Tenaga Kefarmasian dengan Karakteristik Puskesmas dan Praktik Kefarmasian di Puskesmas. Disadur dari https://www.researchgate.net/publication/295072629_HUBUNGAN_KETERSEDIAAN_TENAGA_KEFARMASIAN_DENGAN_KARAKTERISTIK_PUSKESMAS_DAN_PRAKTIK_KEFARMASIAN_DI_PUSKESMAS. (20 November 2018).

JKN Kementerian Kesehatan. (2018). Apa itu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)?. Disadur dari http://www.jkn.kemkes.go.id/detailfaq.php?id=1Rokom. (19 November 2018).

Siokal, Brajakson. Mengapa IPE Penting dalam Pendidikan Profesi Kesehatan. (n,d). Disadur dari www.bcf.or.id/publications/others/518-mengapa-ipe-penting-dalam-pendidikan-profesi-kesehatan.html. (20 November 2018).

Upaya Indonesia Capai Universal Health Coverage di Tahun 2019. (n,d). Disadur dari http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180502/4725818/upaya-indonesia-capai-universal-health-coverage-tahun-2019/. (20 November 2018).

 

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FF UI 2018
#BersamaBerdedikasi