E-prescribing: Inovasi Peresepan Obat di Era Industri 4.0

Era industri 4.0 yang mengutamakan penggunaan sistem informasi, internet, serta kecerdasan buatan sudah merambah ke berbagai sektor, termasuk dalam sektor farmasi. Salah satu wujud nyata peranan teknologi terhadap dunia farmasi adalah munculnya e-prescribing atau resep elektronik. E-prescribing merupakan perangkat lunak yang dirancang secara spesifik untuk memudahkan pelayanan peresepan obat, mulai dari penulisan resep (prescribing), pembacaan resep (transcribing), penyiapan hingga penyerahan resep (dispensing), serta administrasi dan monitoring.

The Pharmacy Benefit Manager of CVS Health¸ sebuah perusahaan kefarmasian di Amerika Serikat, melaksanakan e-prescribing dengan mempertimbangkan kegunaan serta manfaat yang dapat diperoleh. Beberapa kegunaan resep elektronik yang menjadi alasan utama penerapannya adalah sebagai pemberi informasi tercepat terkait biaya obat serta pengurangan jumlah obat yang harus ditebus, serta penyedia alternatif obat yang lebih murah.

Berdasarkan pengamatan Troyen A. Brennan, MD, Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Petugas Medis CVS Health, sering ditemukan pasien yang tidak mengetahui bahwa obat mereka yang tertera dalam resep tidak tercakup atau memiliki harga yang lebih tinggi dari perkiraan hingga mereka sampai di apotek. Hal ini mengakibatkan pasien tidak mengisi resep, tidak patuh. Pada akhirnya, biaya perawatan kesehatan malah bertambah tinggi karena pasien tidak melaksanakan terapi kesehatan dengan obat-obatan sehingga penyakit yang diderita tak kunjung sembuh.

Dr. Adamson, asisten profesor di Departemen Dermatologi dari University of North Carolina, Chapel Hill, melakukan sebuah penelitian terhadap lebih dari 2.500 pasien klinik dermatologi dan menemukan bahwa keberadaan resep elektronik atau e-prescribing dapat menurunkan tingkat ketidakpatuhan pasien dalam penebusan obat dengan cukup signifikan. Penggunaan resep elektronik menunjukkan selisih risiko ketidakpatuhan penebusan obat sebesar 17% lebih rendah dibandingkan dengan resep kertas. Tak hanya itu, e-prescribing juga bermanfaat mengurangi risiko terjadinya kesalahan membaca dan menerjemahkan resep, meningkatkan akurasi dosis dan indikasi obat, mempercepat tahapan input data, memudahkan proses administrasi dan pencatatan sejarah penggunaan obat pasien, hingga menghemat kertas.

Keberadaan resep elektronik memang memberikan begitu banyak keuntungan. Sayangnya, masih ditemukan banyak kendala dalam penerapan teknologi ini. Menurut Jim Bedford, Direktur dari Healthcare, Pharmaceuticals, Medical Devices & Life Sciences at West Monroe Partners, perusahaan yang bergerak di bidang manajemen dan teknologi, kendala utama terwujudnya e-prescribing di rumah sakit dan klinik adalah biaya pelaksanaan yang tidak sedikit, serta adaptasi tenaga kerja kesehatan yang memerlukan waktu yang lama. Meskipun pekerja kesehatan sudah diimingi dengan insentif untuk mengadopsi resep elektronik, masih banyak organisasi yang kesulitan beradaptasi dengan sistem ini.

Permasalahan lain yang mungkin menjadi kesulitan pengembangan resep elektronik adalah pelanggaran keamanan. Sistem e-prescribing yang berbasis web dapat digunakan semua orang sehingga rentan terhadap pelanggaran keamanan. Dalam transaksi resep elektronik, terdapat banyak data kesehatan rahasia yang dapat disalahgunakan apabila prosedur keamanan tidak dijalankan dengan baik.

Di Indonesia sendiri, penggunaan e-prescribing masih sangat jarang karena teknologi yang dianggap kurang memadai, serta sikap tenaga kerja medis yang belum siap menerima sistem baru. Meskipun begitu, sudah ada beberapa rumah sakit nusantara yang menyediakan pelayanan resep elektronik. Salah satu contohnya adalah RSUP Dr. Sardjito sejak 2014. Namun, praktik resep elektronik ini hanya diimpelentasikan di beberapa poli (poli edelwise) saja dan tidak diterapkan untuk penyakit-penyakit kronis karena dikhawatirkan menimbulkan kesalahan.

Sebenarnya, keberadaan e-prescribing, terutama di Indonesia, masih kerap kali menjadi perbincangan hangat di dunia kefarmasian. Fakta bahwa negara lain mampu menyukseskan penggunaan resep elektronik meskipun harus menghadapi banyak kesulitan di awal menjadi acuan bahwa Indonesia mungkin akan menggunakan sistem yang sama di masa yang akan datang. Namun, semua itu kembali bergantung pada ketersediaan dana serta inisiatif sumber daya manusia untuk turut berpartisipasi dalam pelaksanaannya.

Sumber Foto
https://healthcurrent.org/information-center/e-prescribing/

Referensi
Arifin, Sjamsul. dan Dirgahayu, Teguh. 2017. Evaluasi Implementasi Modul E-Prescribing Rumah Sakit dengan Metode Pieces. Dikutip dari https://www.researchgate.net/publication/322968058_Evaluasi_Implementasi_Modul_EPrescribing_Rumah_Sakit_dengan_Metode_Pieces

Modern Medicine Network. 2015. E-prescribing update for health execs: Where are we now? Dikutip dari http://www.managedhealthcareexecutive.com/mhe-articles/e-prescribing-update-health-execs-where-are-we-now/page/0/1

Wathoni, Nasrul., et al. 2016. Penelitian Buktikan Resep Elektronik Mampu Tingkatkan Kepatuhan Pasien. Dikutip dari http://farmasetika.com/2016/11/01/penelitian-buktikan-resep-elektronik-manurunkan-tingkat-kesalahan-peresepan/

Kelompok 4
Magang Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FF UI 2018

  1. Alfiyyah Siti Zainab
  2. Nadira A’dila
  3. Shinta Theresia