Profesi apoteker memiliki peran yang penting dalam dunia kesehatan yaitu sebagai pengelola ketersediaan dan penggunaan obat mulai dari dosis hingga efek samping bagi pasien yang menggunakannya. Selain itu, apoteker juga berperan dalam pemberian konseling pada pasien dalam rangka mengedukasi pasien mengenai prinsip penggunaan suatu obat. Terlebih lagi, pada beberapa negara di dunia, yang berperan dalam merekomendasikan obat bukanlah dokter melainkan apoteker spesialis dalam farmasi klinik.

Apoteker spesialis tersusun dari dua kata yaitu apoteker dan spesialis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, apoteker memiliki arti orang yang ahli dalam ilmu obat-obatan atau orang yang berwenang untuk membuat obat untuk dijual. Sedangkan spesialis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang ahli dalam suatu cabang ilmu atau keterampilan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa apoteker spesialis merupakan seorang yang ahli dalam ranah obat-obatan, yang memiliki fokus pada suatu bidang tertentu seperti onkologi atau penyakit-penyakit lainnya.

Seperti yang mungkin sudah diketahui oleh masyarakat, signifikansi peran apoteker di Indonesia seringkali masih dipandang sebelah mata. Menurut Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., salah satu alasan mengapa profesi apoteker dipandang tidak semestinya ialah karena kondisi kerja apoteker yang tidak mensyaratkan spesialisasi apoteker. Contohnya, tidak hanya apoteker klinis saja yang boleh melamar ke-RS, dan begitu pula sebaliknya; tidak hanya apoteker industri saja yang boleh melamar ke industri farmasi. Tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini terjadi karena spesialisasi apoteker belum dijadikan syarat dalam perekrutan tenaga kerja kefarmasian di Indonesia. Tentunya hal ini membuat kinerja apoteker di bidangnya kurang maksimal karena ilmu yang dipelajarinya tidak sepenuhnya teraplikasikan dalam profesinya.

Terlebih, analisis dari data badan dunia United Nation Against cancer (UICC) menunjukkan bahwa insidensi kanker akan meningkat dengan tajam hingga 200-300% pada beberapa dekade kedepan, dan 60-70% kanker tersebut akan terdapat di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Seperti disampaikan oleh Dr. Widyati, MClin.Pharm. dalam suatu acara seminar kefarmasian dalam rangka memperingati World Cancer Day di Lampung tahun 2017 lalu, hal ini tidak dapat dipisahkan dari peran apoteker di Indonesia dalam memberikan asuhan pasien kanker melalui perbaikan pengobatan. Pengobatan-pengobatan di dalamnya termasuk penggunaan kemoterapi dan high alert medications.

Dalam menghadapi situasi ini, IAI mencanangkan program apoteker spesialis dalam beberapa subspesialis seperti onkologi dan pediatri. Pada dasarnya, kanker adalah penyakit yang spesifik dan toxic sehingga dalam pengobatannya dibutuhkan tenaga yang ahli dengan pemikiran yang matang serta fokus yang tinggi pada satu hal yang spesifik. Demikian pula dengan subspesialis lainnya yakni pediatrik. Apoteker pediatrik dianggap perlu karena anak-anak memiliki jenis penyakit yang berbeda dengan orang dewasa dan dosis obat yang diperlukan juga berbeda.

Tidak hanya itu, apoteker selaku salah satu tenaga kesehatan juga perlu fokus pada satu bidang sehingga dapat mengembangkan kompetensinya dalam rangka memajukan metode pengobatan di Indonesia. Apabila setiap apoteker dapat menguasai satu bidang dan mengaplikasikannya dengan sebaik-baiknya dalam melayani pasien, maka pelayanan yang diberikan kepada pasien akan lebih optimal. Selain itu, diadakannya program spesialisasi apoteker juga dapat berperan sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat mengenai peran apoteker sebagai konsultan profesional mengenai obat-obatan. Hal ini juga dimaksudkan sebagai upaya agar apoteker dapat melaksanakan perannya dengan maksimal.

Penerapan program apoteker spesialis di Indonesia ini nyatanya harus terhambat oleh beberapa kendala. Kendala-kendala tersebut diantaranya adalah persebaran apoteker yang tidak merata di Indonesia yang dibuktikan dengan masih ditemukan banyak puskesmas yang tidak memiliki tenaga apoteker didalamnya. Selain itu, kurangnya kualitas pendidikan farmasi di Indonesia juga menjadi salah satu penghambat besar dalam penerapan program spesialisasi apoteker. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya 56% prodi S1 farmasi yang belum terakreditasi. Padahal, terdapat 184 perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki prodi S1 farmasi di dalamnya. Masih banyaknya prodi S1 farmasi yang belum terakreditasi ini menghambat penerapan program apoteker spesialis karena program apoteker spesialis hanya dapat diterapkan di sejumlah PSPA yang telah terakreditasi.

Apoteker spesialis, yaitu apoteker yang memfokuskan ilmunya pada satu bidang (seperti bidang onkologi), sangat dibutuhkan mengingat analisis data dari UICC yang menunjukkan bahwa insidensi kanker akan meningkat sekitar 200%-300% pada beberapa dekade ke depan. Oleh karena itu, IAI telah mencanangkan pengadaan program apoteker spesialis, meski pada kenyataannya Indonesia mungkin masih belum siap untuk mengeksekusi program ini. Indonesia memang membutuhkan apoteker spesialis, namun penerapan program apoteker spesialis hanya memungkinkan apabila sistem pendidikan farmasi di Indonesia sudah memadai terutama dari segi kualitas.

Sumber Foto
https://biofar.id/tingkatkan-profesionalistas-profesi-apoteker-akan-punya-spesialisasi/

Referensi
Kementerian Kesehatan. Panduan penyelenggaraan pelayanan kanker di fasilitas pelayanan kesehatan [Internet]. Diakses pada 2 Oktober 2018 dari http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PanduanPelayananKanker.pdf

Subagiyo, A. Apoteker (onkologi) kunci keberhasilan pengobatan kanker [Internet]. 22 Februari 2017. Diakses pada 2 Oktober 2018 dari https://warta-apoteker.com/apoteker-onkologi-kunci-keberhasilan-pengobatan-kanker/

Anonim. 2017. Setujukah dengan adanya apoteker spesialis? [Internet]. 7 September 2017. Diakses pada 2 Oktober 2018 dari http://farmasetika.com/forums/topic/setujukah-dengan-adanya-apoteker-spesialis/

Devi, O. C. Pendidikan profesi apoteker: Praktek apoteker klinis dan industri (Bersama Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt.) [Internet]. 21 November 2017. Diakses pada 2 Oktober 2018 dari https://today.mims.com/pendidikan-profesi-apoteker-apoteker-klinis-dan-industri-zullies-ikawati

Kelompok 2
Magang Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FF UI 2018

  1. M. Atthallah
  2. Maryam Rizqi Nursyifa
  3. Sartika Harka Putri

Tags:

Comments are closed