Berdasarkan Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan tahun 2006, swamedikasi adalah upaya pengobatan yang dilakukan sendiri. Selain itu, swamedikasi menurut World Health Organization didefinisikan sebagai upaya untuk menggunakan atau memperoleh obat tanpa diagnosa, saran dokter, resep, pengawasan terapi ataupun penggunaan obat untuk mengobati diri sendiri tanpa konsultasi dengan petugas kesehatan.

Sebelum melakukan konseling kesehatan pada tenaga kesehatan, swamedikasi sering dilakukan oleh masyarakat ketika mengalami gejala penyakit ringan. Data Susenas Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 60% masyarakat melakukan pengobatan sendiri. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan bahwa 35,2% masyarakat Indonesia menyimpan obat di rumah tangga, baik diperoleh dari resep dokter maupun dibeli sendiri secara bebas, di antaranya sebesar 27,8% adalah antibiotik. (Kementerian Kesehatan, 2013)

Dalam proses swamedikasi, apoteker berperan penting dalam pengelompokkan obat yang dibutuhkan masyarakat dalam menangani gejala yang dirasakan. Peran apoteker di sini adalah konseling pada pasien dengan menanyakan gejala dan alergi yang dimiliki pasien serta pola hidup yang biasa dijalani oleh pasien sehari-hari. Selain itu, salah satu peran apoteker saat pelaksanaan konseling adalah menginformasikan tentang obat yang akan dikonsumsi oleh pasien sesuai dengan gejala yang dialami. Profil obat yang diinformasikan berupa nama obat, indikasi, dosis, aturan pakai, efek samping, peringatan, dan lain-lain.

Terdapat dua golongan obat menurut Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan yang umumnya digunakan sebagai obat-obatan swamedikasi, yaitu:

  1. Obat Bebas
    Obat bebas adalah obat yang di kemasannya mempunyai lambang lingkaran hijau dengan tepi garis berwarna hitam. Obat ini dijual bebas dan dapat dibeli tanpa resep dokter.
  1. Obat Bebas Terbatas
    Obat bebas terbatas adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep obat, walaupun termasuk dalam obat keras. Obat bebas terbatas biasa dilambangkan dengan lingkaran biru pada kemasannya.

Adapun golongan obat lain menurut Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan yaitu obat keras dan psikotropika serta obat narkotika. Ketiga obat tersebut memerlukan resep dokter dalam proses penebusannya di apotek. Obat psikotropika sendiri merupakan obat keras bersifat psikoaktif yang dapat menyebabkan perubahan khas bagi penggunanya, sementara obat narkotika adalah obat-obat yang dapat menurunkan atau bahkan menghilangkan kesadaran, menghilangkan rasa, dan dapat menyebabkan ketergantungan. Berdasarkan penjelasan mengenai golongan obat tersebut, maka dalam upaya swamedikasi, hanya obat bebas dan obat bebas terbatas yang dapat diberikan kepada pasien. Hal ini karena tidak terikatnya obat tersebut dengan resep dokter. Salah satu metode swamedikasi yang dapat diterapkan oleh masyarakat adalah Metode Cara Belajar Insan Aktif atau Community Based Interactive Approach (CBIA).

CBIA adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengedukasi masyarakat agar dapat memilih dan menggunakan obat dengan benar. Metode ini pertama kali dikembangkan oleh guru besar farmakologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Sri Suryawati bersama timnya di Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat UGM sejak tahun 1992. Metode CBIA ini dilaksanakan dengan cara mengadakan penyuluhan dengan praktik langung yang dibimbing oleh tutor atau fasilitator. Kemudian, kader – kader ini akan dibagi ke dalam kelompok – kelompok kecil untuk dilatih membaca dosis, mengelompokkan jenis obat, dan lain-lain. Ada pula praktik tiap individu pada akhir pelatihan. Metode ini telah diadopsi oleh beberapa negara di Asia dan diakui oleh WHO.

Dalam upayanya menerapkan metode CBIA di Indonesia, salah satu output yang diinginkan oleh pemerintah adalah agar masyarakat menyadari dan mengetahui tentang jenis obat yang akan mereka konsumsi, bahan aktif yang terkandung dalam obat, serta waktu minum obat yang tepat. Apabila pemerintah tidak meneruskan maupun menggiatkan kembali program CBIA ini, maka tentu akan banyak dampak buruk yang terjadi seperti pada beberapa kasus yang diberitakan di bawah ini:

  1. Disunting dari kompas dengan judul “Obat Penenang Riklona Clonazepam Ternyata Dijual Bebas di Warung”, dapat diketahui bahwa terdapat warung yang menjual tablet Riklona secara bebas padahal obat tersebut merupakan salah satu obat penenang dan banyak konsumen dengan kisaran usia 17-20 tahun, yang mana usia ini adalah usia yang terbilang rentan terhadap penyalahgunaan obat.
  2. Disunting dari sindonews online dengan judul “Jual Obat Tanpa Resep Dokter Polisi Gerebek Toko Obat Ilegal”, dapat diketahui bahwa pada salah satu apotek di Bekasi telah ditemukan tablet-tablet obat yang tergolong narkotika dengan jumlah banyak dan siap diedarkan secara bebas.

Dua kasus di atas merupakan dampak yang ditimbulkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang jenis obat-obatan. Peran pengawasan oleh pemerintah dan tenaga kesehatan juga menjadi faktor penting dalam praktik swamedikasi yang terjadi di Indonesia.

Sumber Foto
https://kesehatankeluarga.net/yang-di-maksud-swamedikasi-atau-self-care-255.html

Referensi
Departemen Kesehatan. 2006. Pedoman Obat Bebas dan Obat Terbatas. Jakarta. Diakses dari: http://pio.binfar.depkes.go.id/PIOPdf/PEDOMAN_OBAT_BEBAS_DAN_BEBAS_TERBA TAS.pdf

Gusnellyanti, E. 2014. Mencerdaskan Masyarakat dalam Penggunaan Obat melalui Metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA). Diakses dari: http://farmalkes.kemkes.go.id/2014/09/mencerdaskan-masyarakat-dalam-penggunaan-obat melalui-metode-cara-belajar-insan-aktif-cbia/#.W7FWG_ZuK00

Purba, D.O. 2016. Obat Penenang “Riklona Clonazepam” Ternyata Dijual Bebas di Warung. Diakses dari: https://megapolitan.kompas.com/read/2016/03/30/15401821/Obat.Penenang.Riklona.Clonaze pam.Ternyata.Dijual.Bebas.di.Warung

Surjaya, A.M. 2018. Jual Obat Tanpa Resep Dokter, Polisi Gerebek Toko Obat Ilegal. Diakses dari: https://metro.sindonews.com/read/1285893/170/jual-obat-tanpa-resep-dokter-polisi-gerebek-toko-obat-ilegal-1519823489

http://apps.who.int/medicinedocs/en/d/Jh1462e/1.html

Kelompok 1
Magang Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FF UI 2018

  1. Arva Pandya Wazdi
  2. Nur Mulzimatus Syarifah
  3. Siti Hana Aliyah

 

Tags:

Comments are closed