Eksistensi Apoteker di Abad ke-21

Abad ke–21 sudah termasuk ke dalam masa yang berkembang, di mana informasi dapat ditemukan dalam berbagai sumber dan berbagai bentuk yang dapat meningkatkan kompetensi dari profesi apoteker. Apoteker adalah salah satu sumber daya manusia yang yang mempunyai peran pengabdian di masyarakat dalam bidang kesehatan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.

Apoteker saat ini turut berperan dalam manajemen dan pengaturan regulasi obat, farmasi komunitas, farmasi rumah sakit, dan industri farmasi. Dalam manajemen dan pengaturan regulasi obat, salah satu peran apoteker adalah sebagai salah satu tenaga profesional yang ikut berpartisipasi dalam merumuskan regulasi tentang kesehatan dan obat-obatan. Sedangkan di farmasi komunitas, salah satu peran apoteker adalah sebagai penanggung jawab di apotek yang berperan dalam pengecekan akhir dari resep dan obat yang akan diserahkan kepada pasien. Berbeda dengan farmasi komunitas, peran apoteker dalam farmasi rumah sakit lebih bersinggungan langsung dengan pengobatan pasien di mana seorang apoteker rumah sakit berinteraksi langsung dengan dokter sehingga dapat mempengaruhi pengobatan pasien secara langsung. Seorang apoteker dalam farmasi industri memiliki banyak peran penting dalam pengembangan obat-obatan seperti menjadi penjamin kualitas dari bagian produksi obat, dan lain lain.

Pada abad ke-21 ini, seorang apoteker secara global dituntut untuk menjadi bagian dari tim kesehatan yang ikut serta dalam membuat keputusan untuk seorang pasien. Seorang apoteker juga diharapkan dapat mengedukasi pasien tentang beberapa penyakit seperti diabetes dan penyakit kronis lainnya untuk membantu tenaga kesehatan lainnya dan meningkatkan tingkat kesehatan pasien. Berdasarkan data FIP, jumlah apoteker yang terdaftar di 74 negara yang mewakili 76% populasi dunia mencapai angka 4 juta tetapi hanya sekitar 2,8 juta yang aktif dan sebagian besar dari apoteker yang aktif bekerja di farmasi komunitas. Dari lingkup kerja dan tanggung jawab yang telah diberikan pada apoteker, belum semuanya terlaksana dengan optimal. Jumlah yang mencapai angka 4 juta tersebut juga tidak menjamin keselamatan pasien secara holistik. Maka dari itu, dibutuhkan pengkajian dan pengembangan secara terus menerus oleh apoteker itu sendiri.

Seiring perkembangan zaman, peran farmasis mengalami perkembangan dan pergeseran. Pada masyarakat tradisional, apoteker merupakan salah satu ‘konglomerat’ dari tenaga kesehatan bersama dengan dokter (Dufful, 2017). Apoteker pada zaman dahulu berperan dalam penjualan obat dibandingkan dengan berperan langsung dalam memberikan asuhan kefarmasian kepada pasien. Apoteker lebih berorientasi dalam bisnis dan penjualan produk dibandingkan memenuhi kebutuhan pengetahuan obat pasien. Hal tersebut menimbulkan konflik kepentingan dalam diri apoteker karena lebih melayani kebutuhan diri sendiri dibandingkan mengabdi pada komunitas tempat apoteker tersebut bekerja. Berikut adalah gambar tentang perubahan peran apoteker selama beberapa abad. Warna biru menggambarkan peran farmasis dalam pembuatan dan penjualan obat, warna hijau menggambarkan peran farmasis dalam melakukan dispensis sesuai resep dokter, warna emas menggambarkan peran farmasis dalam pengecekan kesehatan pasien, warna merah menggambarkan peran farmasis dalam optimasi obat-obatan, dan warna merah muda menggambarkan peran farmasis dalam peresepan obat.

Dalam perubahan peran-peran tersebut, muncul juga masalah-masalah baru. Perubahan peran didasarkan dengan kebutuhan masyarakat akan pengetahuan dari apoteker itu sendiri. Masyarakat yang membutuhkan pengetahuan obat-obatan yang lebih komprehensif, membuat peran dan pekerjaan antartenaga kesehatan juga bergeser. Peran dokter yang awalnya diagnosis dan dispensing obat-obatan mengalami pergeseran menjadi hanya diagnosis penyakit. Hal ini disebabkan berkembangnya ilmu penyakit dan obat-obatan sehingga diperlukan penyeimbangan dari peran tenaga kesehatan.

Perkembangan ilmu penyakit dan obat-obatan memberikan tantangan baru bagi apoteker. Tanggung jawab yang terus berkembang membuat apoteker memiliki kewajiban untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuannya (Novakovic, 2017). Masalah yang dihadapi dari apoteker pada abad ke-21 adalah perkembangan dan peningkatan sistem penghantaran obat. Dari proses produksi, apoteker perlu belajar lebih bagaimana memformulasikan obat-obatan dengan sistem administrasi dan teknologi terbaik untuk kesembuhan pasien. Hal lain yang menjadi tantangan bagi apoteker adalah pengobatan presisi. Pengobatan presisi terus berkembang seiring dengan pembuatan obat sesuai dengan genom dari suatu individu. Apoteker berperan dalam perumusan dan pengambilan keputusan klinis untuk peningkatan kualitas hidup pasien. Tantangan selanjutnya adalah kontrol dan pencegahan dari penyakit tidak menular kronis seperti penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit kronis pernapasan, dan diabetes mellitus. Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyakit yang sering ditemukan di masyarakat. Penyakit tersebut adalah tantangan utama karena dapat menyebabkan penyakit-penyakit lain dan menurunkan kualitas hidup dari masyarakat. Tantangan keempat adalah fitoterapi. Penggunaan bahan alam sebagai pengobatan merupakan salah satu hal yang berkembang pada abad 21. Walaupun manusia telah menggunakan bahan alam sejak zaman dahulu, tetapi perkembangan bentuk sediaan dan cara pembuatan tetap dilakukan hingga saat ini. Tantangan lainnya adalah penggunaan antioksidan dalam terapi dan pencegahan, interaksi obat-makanan, perlindungan kesehatan pasien akibat polusi lingkungan, dan Good Manufacturing Practice (GMP).

Hari Apoteker Sedunia yang jatuh pada tanggal 25 September kiranya dapat menjadi pengingat bagi apoteker Indonesia untuk terus mengevaluasi diri dalam perannya sebagai tenaga kesehatan. Apabila profesi apoteker kini dipandang sebelah mata oleh masyarakat, ini bukan merupakan kesalahan masyarakat yang kurang informasi tetapi kesalahan apoteker karena tak mampu menunjukkan perannya secara langsung kepada pasien. Tujuan utama dari profesi apoteker adalah untuk menolong pasien mencapai hasil kesehatan yang diinginkan dan dilakukan dengan menyediakan pelayanan kefarmasian yang aman dan efisien. Berkaca pada isu yang sering dibincangkan akhir-akhir ini mengenai kondisi dunia farmasi di Indinesia seperti vaksin palsu dan pil PCC, hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar. Apakah masyarakat Indonesia merasakan pelayanan kefarmasian yang aman? Bagaimana sebenarnya eksistensi apoteker dalam masyarakat Indonesia?

Pada abad ke-21, farmasis dituntut untuk memegang peran penting dalam pengoptimalisasian sistem pengantaran obat, terapi pribadi, dan pencegahan dan kontrol terhadap penyakit yang tidak dapat dikomunikasikan. Kini farmasis harus siap menghadapi semakin banyaknya masyarakat dengan penyakit yang muncul semakin bervariasi di abad ke-21 ini. Apoteker sebagaimana semestinya harus mampu menjalankan perannya sebagai long-life learner, yaitu selalu mengumpulkan informasi penting mengenai kelayakan, keselamatan, dan efikasi dari obat yang diresepkan kepada pasien. Apoteker juga harus terus aktif dalam mengikuti informasi terbaru setiap waktu karena ilmu pengetahuan akan terus berubah dalam tahun-tahun ke depan.

Apoteker di Indonesia perlu berkaca pada eksistensi apoteker di luar negeri, yang mana lebih mengutamakan komunikasi dan pemberian informasi secara langsung kepada pasien. Di luar negeri terdapat lima poin penting yang membutuhkan kehadiran apoteker secara langsung, antara lain:
1. Menyediakan pelayanan kefarmasian
2. Menghasilkan dan mendistribusikan penyiapan obat dan produk
3. Berkontribusi dalam tindakan efektif kefarmasian
4. Menjaga pertumbuhan professional dan kontribusi untuk pertumbuhan professional orang lain
5. Berkontribusi dalam keefektifan sistem pelayanan kesehatan

Hal ini mengakibatkan citra apoteker di luar negeri sangat tinggi. Masyarakat mengenal apoteker tidak hanya sebagai peracik obat, namun sebagai profesi yang ikut ambil andil dalam pemenuhan tujuan kesehatannya. Hal ini dapat menjadi refleksi bagi apoteker Indonesia untuk kembali memperbaiki citranya di mata masyarakat. Apoteker harus selalu hadir dalam apotek dan mulai berfokus kepada kesehatan pasien, serta secara langsung berinteraksi dengan pasien dalam pemberian informasi obat dan pemenuhan tujuan kesehatan pasien.

Referensi
Anonim. (2018). Retrieved from https://www.fip.org/files/fip/publications/2017-09-Pharmacy_at_a_Glance-2015-2017.pdf

College of Pharmacist of British Columbia. (2006). Framework of Professional Practice.

Competency Development & Evaluation Group (CoDEG). (2007). General Level Framework: A Framework for Pharmacist Development in General Pharmacy Practice.

Duffull, S., Wright, D., Marra, C., & Anakin, M. (2018). A philosophical framework for pharmacy in the 21st century guided by ethical principles.

Novakovic, B., Milanovic, M., Atanackovic-Krstonosic, M., Srdjenovic-Conic, B., Gavaric, N., & Kladar, N. et al. (2017). The 21st century – the role of the pharmacist in the healthcare. Medical Review, 70(11-12), 365-370. doi: 10.2298/mpns1712365n

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FF UI 2018
#BersamaBerdedikasi