Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  mendorong industri farmasi, khususnya pada industri jamu dan kosmetik, untuk terus menggunakan bahan baku alam. Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto, mengatakan bahwa pemerintah konsisten mendukung biofarmasi sebagai solusi dari maksimalisasi penggunaan dan pengembangan dari kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Pemerintah juga memberikan beberapa bantuan atau  insentif untuk mendorong inovasi dalam pemakaian bahan alam. Contoh dari insentif yang diberikan berupa subsidi impor serta membangun pabrik bahan baku obat di Indonesia.

Industri farmasi, menurut Kemenperin, mengalami pertumbuhan sebesar 6,85% pada tahun 2017 untuk bidang produk obat kimia dan obat tradisional. Selain itu, industri bahan kimia dan barang kimia yang mencakup kosmetik mengalami pertumbuhan sebesar 3,48%. Kedua pertumbuhan industri tersebut turut menyumbangkan Rp67 triliun terhadap Produk Dosmetik Bruto (PDB).

Pemerintah sangat mendukung pertumbuhan industri jamu dan kosmetik karena produk kecantikan dari Indonesia mulai digemari oleh wisatawan mancanegara, contohnya adalah produk spa. Pemerintah juga menyiapkan industri farmasi dengan baik demi menghadapi revolusi industri 4.0. Nilai rupiah yang terdepresiasi juga turut berpengaruh pada industri farmasi mengingat hampir 90% bahan baku industri farmasi dipenuhi oleh impor.

Pemerintah juga berusaha untuk memangkas hingga 20% dari ketergantungan bahan baku impor dengan mendorong produksi bahan baku obat substitusi di dalam negeri. Deputi Kemenko Perekonomian Eddy Putra Iriadi berkata bahwa beberapa komponen bahan baku obat dan teknologi farmasi sebenarnya sudah dibuat di Indonesia. Bahkan, Indonesia telah memiliki laboratorium yang mampu memproduksi penisilin, gelatin, kapsul, infus, dan bahan pendukung lainnya.

Upaya pembangunan industri bahan baku obat di Indonesia membutuhkan kerja keras. Pasalnya pengoperasian  industri bahan baku obat di Indonesia kurang mempunyai daya saing karena membutuhkan biaya tinggi. Selain permasalahan daya saing yang rendah dan biaya yang tinggi, menurut Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ondri Dwi Sapurno, eksplorasi serta penelitian pada tanaman obat di Indonesia harus dikembangkan karena walaupun sudah banyak dilakukan  riset, selama ini periset tanaman obat di Indonesia belum terlalu mengikuti kaidah hasil riset yang nantinya dikomersialkan.

Hasil uji coba saat ini belum menggunakan bahan uji yang memenuhi cara pembuatan obat tradisional yang baik dan benar. Akibatnya, pada saat industri farmasi ingin menggunakan harus mengulang kembali penelitian yang dilakukan. Untuk mengurangi ketidakselarasan yang ada menurut Ondri, perlu ada keselarasan sejak awal antara periset dan  industri. Menteri Perindustrian juga mengungkapkan Kementerian Perindustrian fokus mengembangkan industri farmasi nasional untuk menciptakan produk biofarmasi dengan memanfaatkan sumber bahan baku alam, mengingat potensi besar yang ada di dalam negeri.

“Biodiversitas Indonesia terbesar di dunia, ada kunyit, temu lawak, kayu manis, tapi kita mulai cari yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Kemudian ada lagi bioactive fraction atau fraksi-fraksi yang mempunyai kemampuan biologi pada indikasi kesehatan tertentu,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Kemudian, adanya tren masyarakat untuk kembali ke alam (back to nature) membuka peluang bagi produk jamu dan kosmetik berbahan alami seperti produk-produk spa yang berasal dari Bali. “Produk-produk spa ini cukup banyak diminati wisatawan mancanegara. Dengan penguatan branding yang baik, diharapkan produk kosmetik nasional ke depannya dapat mencapai kesuksesan seperti produk-produk kosmetik dari luar negeri,” tuturnya. Upaya tersebut seiring dengan langkah strategis dalam menerapkan revolusi industri 4.0 di Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor berbasis kimia.

Sumber Foto
http://www.ethpress.gov.et/herald/index.php/news/national-news/item/11491-university-sets-to-produce-herbal-medicine

Referensi
Anggraeni, R. (2018). Industri Farmasi, Kosmetik dan Jamu Didorong Pakai Bahan Baku Alam. Diakses dari https://ekbis.sindonews.com/read/1320588/34/industri-farmasi-kosmetik-dan-jamu-didorong-pakai-bahan-baku-alam-1531230678

Deny, S. (2018). Menperin Minta Industri Farmasi Pakai Bahan Baku Alam. Diakses dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/3584445/menperin-minta-industri-farmasi-pakai-bahan-baku-alam

Desideria, Benedikta. (2017). Kembangkan Obat Bahan Alam, Periset dan Industri Perlu Kerja Sama. Diakses dari https://m.liputan6.com/amp/2947925/kembangkan-obat-bahan-alam-periset-dan-industri-perlu-kerja-sama

Kemenperin RI. (2018). IndustriFarmasi, KosmetikdanJamuDidorongManfaatkanBahan Baku Alam. Diaksesdari http://www.kemenperin.go.id/artikel/19419/Industri-Farmasi,-Kosmetik-dan-Jamu-Didorong-Manfaatkan-Bahan-Baku-Alam

Lavinda. (2018). Tahan Impor, Industri Diminta Bikin Bahan Baku Farmasi Lokal. Diakses dari  https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180711082816-92-313161/tahan-impor-industri-diminta-bikin-bahan-baku-farmasi-lokal

Nurmansyah, A. (2018). GarapPasarDomestikKemenperinAndalkanIndustriFarmasi, KosmetikdanJamu. Diaksesdarihttp://m.akurat.co/id-250425-read-garap-pasar-domestik-kemenperin-andalkan-industri-farmasi-kosmetik-dan-jamu

Riana, F. (2018). Menperin: IndustriBiofarmasiDidorongManfaatkanBahan Baku Alam. Diaksesdari www.google.co.id/amp/s/bisnis.tempo.co/amp/1105704/menperin-industri-biofarmasi-didorong-manfaatkan-bahan-baku-alam

Departemen Kajian & Aksi Strategis
BEM FF UI 2018
#BersamaBerdedikasi

Tags:

Comments are closed