Pada tanggal 31 Mei 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) bersama BNN, Kepolisian Daerah, dan Satpol PP menyita gudang dan obat ilegal yang berkedok jasa pengiriman paket di Jalan Soekarno-Hatta nomor 12, Semarang, Jawa Tengah. BPOM RI telah menyita seluruh produk obat ilegal beserta dokumen dan catatan penjualan tersebut. Berdasarkan pemeriksaan sementara terhadap saksi-saksi, PPNS BPOM RI telah menetapkan satu orang tersangka berinisial UA. Tersangka menjalankan usaha di gudang ini sebagai tempat penyimpanan, pengemasan, dan pengiriman barang. Dalam temuan ini kepala BPOM, Penny K. Lukito, menegaskan akan terus menelusuri dan memprosesnya secara pro-justitia.

Di TKP telah ditemukan barang bukti kejahatan berbagai jenis obat ilegal yang banyak ditemukan di peredaran antara lain berupa injeksi, vitamin C, kolagen, gluthathion, tretinoin, obat-obat pelangsing, sibutramine HCL, serta produk-produk skincare dengan total sejumlah 146 item atau sejumlah 127.900 buah dengan nilai keekonomian diperkirakan mencapai Rp3,5 miliar. Selain itu, petugas juga menyita tujuh unit handphone dan lima unit personal computer yang digunakan untuk transaksi dan administrasi penjualan serta dokumen dan catatan penjualan. Berdasarkan dokumen yang ditemukan dan keterangan tersangka UA, usaha dijalankan sejak tahun 2015 dengan omzet 400-500 juta rupiah per bulan.

Modus operandi yang dilakukan yaitu menjual obat ilegal melalui e-commerce dan media sosial dan didistribusikan melalui jasa pengiriman ke seluruh Indonesia. Penjualan ini dilakukan kepada individu-individu secara online. “Ini merupakan suatu peringatan kepada siapapun yang membeli produk kesehatan secara online, ada potensi bahaya karena tidak ada yang menjamin mutu dan ini akan membahayakan jiwa jika tanpa resep dokter. Ada pelanggaran dalam penjualan online ini”, tambah Penny K. Lukito.

Tersangka kasus ini diduga melanggar pasal 196 dan 197 UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 karena telah mengedarkan sediaan farmasi berupa obat yang ilegal dan diancam hukuman penjara maksimal 15 tahun serta denda paling banyak Rp1,5 miliar. Pengedaran sediaan farmasi berupa obat ilegal ini akan memengaruhi kesehatan masyarakat karena obat yang dijual tidak melalui penjaminan mutu dan dapat membahayakan nyawa apabila tidak melalui peresepan dokter. Walaupun penjualan dilakukan secara online yang lebih mudah, tetapi masyarakat juga harus tetap waspada dengan sumber obat atau suplemen yang akan dikonsumsi. Konsumen diimbau untuk tidak mudah percaya dan langsung membeli produk online tanpa verifikasi keamanan produk. Terkait hal ini, Kepala BPOM RI selalu mengingatkan masyarakat untuk Cek KLIK, yaitu cek kemasan, cek label, cek izin edar, dan cek kedaluwarsa dalam pemilihan produk obat untuk dibeli. Masyarakat juga dapat mendapatkan informasi lebih lanjut dan melakukan pengaduan pada contact center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, Twitter @BPOM_RI, atau pada Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) di Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia. Para pengusaha juga wajib untuk mematuhi perundang-undangan yang berlaku demi kebaikan konsumen. BPOM RI juga akan terus melakukan monitoring dan mengungkap pelaku kejahatan yang serupa.

 

Sumber Foto
https://www.healthyfigures.org/top-10-most-expensive-legal-and-illegal-drugs-in-the-world/

 

Referensi
Badan Pengawas Obat dan Makanan versi Mobile. (2018). Retrieved from http://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/pers/412/SIARAN-PERS-BPOM-RI-SITA-OBAT-ILEGAL-BERNILAI-3-5-MILIAR-RUPIAH-DI-SEMARANG.html

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis. (2018). BPOM Temukan Lagi Peredaran Obat Ilegal. Diakses pada 1 Juni 2018 dari http://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/berita/14476/BPOM-Temukan-Lagi-Peredaran-Obat-Ilegal.html

BPOM Kembali Temukan Obat Ilegal Senilai 3.5 Milyar – Info Farmasi Terkini Berbasis Ilmiah dan Praktis. (2018). Retrieved from http://farmasetika.com/2018/05/31/bpom-kembali-temukan-obat-ilegal-senilai-3-5-milyar/

Purbaya, Angling Adhitya. (2018). BPOM Sita Obat Kecantikan Ilegal Senilai Rp3,5 M di Semarang. Diakses pada 31 Mei 2018 dari https://m.detik.com/news/jawatengah/4046623/bpom-sita-obat-kecantikan-ilegal-senilai-rp-35-m-di-semarang

Rina Cahyanai, Dewi. (2018). BPOM Gerebek Pengedar Obat Ilegal Senilai Rp 3,5 Miliar. Diakses pada 1 Juni 2018 dari https://www.google.co.id/amp/s/bisnis.tempo.co/amp/1094158/bpom-gerebek-pengedar-obat-ilegal-senilai-rp-35-miliar

Ramadhani, Yulaika. (2018). BPOM Sita Obat Ilegal Senilai 3,5 Milyar Rupiah di Semarang. Diakses pada 31 Mei 2018 dari https://tirto.id/bpom-sita-obat-ilegal-35-milyar-rupiah-di-semarang-cLtp

Romadhoni, B. (2018). Retrieved from http://news.metrotvnews.com/read/2018/05/31/882130/bpom-sita-obat-ilegal-bernilai-rp3-5-miliar-di-semarang

Departemen Kajian & Aksi Strategis
BEM FF UI 2018
#BersamaBerdedikasi

Tags:

Comments are closed