POLI

Saat ini sedang beredar luas surat BPOM RI dengan nomor: B-PW.03.02.354.3.01.18.0021 perihal rekomendasi hasil rapat kajian aspek keamanan pasca pemasaran polikresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar dengan konsentrat 36%. BPOM RI memutuskan untuk membekukan izin edar polikresulen dalam bentuk sediaan cairan dan melakukan revaluasi indikasi polikresulen dalam bentuk sediaan gel dan ovula karena juga mengandung polikresulen dengan konsentrat 36%. Surat ini tentu mengundang reaksi berbagai kalangan masyarakat mengingat bahwa empat produk obat yang beredar di Indonesia diketahui mengandung polikresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat. Empat produk obat tersebut di antaranya: Albothyl (DTL8821600341A2) oleh PT Pharos Indonesia, Medisio (DTL1221102041A1) oleh PT Pharos Indonesia, Prescotide (DTL1233526741A1) oleh PT Novel Pharmaceutical Laboratories, dan Aptil (DTL0731527941A1) oleh PT Pratapa Nirmala. Dengan demikian, keempat produk obat ini tidak lagi direkomendasikan oleh BPOM RI sebagai obat yang beredar luas di Indonesia.

PT Pharos Indonesia selaku produsen obat Albothyl menganggapi bahwa ia terus mengumpulkan informasi dan data terkait produk Albothyl. Pihaknya juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan BPOM RI dan akan segera menyampaikan informasi resmi terkait hal ini kepada masyarakat. Imawan, Manager PT Pharos, menjelaskan bahwa BPOM RI hanya memberikan tanda bagi masyarakat untuk berhati-hati saat memakai Albothyl untuk mengobati sariawan. Menurutnya, pemakaian Albothyl untuk sariawan tidak berbahaya apabila Albothyl diencerkan terlebih dahulu karena kandungan polikresulennya yangsedikit.

BPOM RI sebagai pengawas obat secara rutin melakukan fungsinya pada obat yang beredar di Indonesia melalui sistem farmakoviligans. Mengacu pada Peraturan KBPOM RI tahun 2011 tentang Penerapan Farmakoviligans bagi Industri Farmasi, farmakovigilans merupakan seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa obat yang beredar di masyarakat memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu.Pada kasus ini, BPOM RI telah menerima 38 laporan dari profesional kesehatan mengenai pasiennya yang mengeluhkan efek samping serius dari obat Albothyl dalam mengobati sariawan, diantaranya sariawan yang membesar dan berlubang hingga mengakibatkan infeksi (noma like lession).

Polikresulen merupakan obat golongan antiseptik dan hemostatik hasil kondensasi asam metakresolsulfonat dan metanol. Rantai polikresulen bermuatan negatif, sehingga senyawa bersifat asam. Saat ini, yang dijual bebas terbatas mengandung konsentrat 36%(g/g). Namun dalam penggunaannya tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada pembedahan serta penggunaan pada kulit (dermatologis); telinga, hidung, tenggorokan (THT); sariawan (stomatitis aftosa); dan gigi (odontologi). Polikresulen tepat digunakan untuk mengatasi peradangan pada vagina, serviksitis, vaginosis bakterial.

Terkait dengan beredar luasnya informasi ini, masyarakat harus lebih bijak dalam menanggapi berita. Masyarakat disarankan untuk mengecek kebenaran suatu informasi sehingga tidak terjadi mispersepsi dan menimbulkan kegegeran publik. Berita terkait dilarangnya obat-obatan juga harus ditelaah lebih dalam karena banyak menggunakan pilihan kata yang awam bagi masyarakat. Hal ini perlu diklarifikasi demi menjaga suasana yang kondusif dan kebenaran informasi. Mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa farmasi mempunyai peran untuk memberikan klarifikasi tentang informasi yang beredar di masyarakat terkait dengan obat-obatan. Penerapan ilmu yang telah didapatkan di perkuliahan sepatutnya diaplikasikan demi kemaslahatan bersama. Obat-obatan merupakan hal yang melekat terhadap kesehatan masyarakat dan bukan tidak mungkin hal serupa akan terjadi kembali di kemudian hari. Maka dari itu, tenaga kesehatan profesional, mahasiswa, dan masyarakat harus saling bekerja sama untuk memberitakan hal sesungguhnya dan menyangkal berita bohong yang mungkin terjadi.

 

Sumber Foto
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Policresulen

 

Referensi
Albothyl – suppository | how to use | effects. (2016). Pharmacybook.net. Diakses 16 Februari 2018, dari https://pharmacybook.net/albothyl/

Badan Pengawas Obat dan Makanan – Republik Indonesia. (2018). Pom.go.id. Diakses 16 Februari 2018, dari http://pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/80/PENJELASAN-BPOM RI-RI–TERKAIT-ISU-KEAMANAN-OBAT-MENGANDUNG-POLIKRESULEN-CAIRAN-OBAT-LUAR-KONSENTRAT.html

Badan Pengawas Obat dan Makanan – Republik Indonesia. (2018). Pom.go.id. Diakses 16 Februari 2018, dari http://www.pom.go.id/new/admin/dat/20180215/Lampiran_penjelasan_Kabadan.pdf

Jawaban PT Pharos Atas Kandungan Berbahaya pada Produk Albothyl : Okezone Lifestyle. (2018). https://lifestyle.okezone.com/. Diakses 16 Februari 2018, darihttps://lifestyle.okezone.com/read/2018/02/15/481/1859995/jawaban-pt-pharos-atas-kandungan-berbahaya-pada-produk-albothyl

Kamaliah, A. (2018). BPOM Larang Pakai Albothyl, Ini Tanggapan PT PharosdetikHealth. Diakses 16 Februari 2018, dari https://health.detik.com/read/2018/02/15/153919/3869234/763/BPOM RI-larang-pakai-albothyl-ini-tanggapan-pt-pharos

Policresulen : Dosis obat | Kegunaan | Efek samping. (2018). Farmasiana. Diakses 16 Februari 2018, dari https://www.farmasiana.com/policresulen/policresulen/

Polikresulen. (2014). Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan POM RI. Diakses 16 Februari 2018, dari http://ik.pom.go.id/v2014/katalog/POLIKRESULEN_edit%20Final.pdf

Putri, F. (2018). Perhimpunan Dokter Gigi Tak Sarankan Policresulen untuk SariawandetikHealth. Diakses 16 Februari 2018, dari https://health.detik.com/read/2018/02/15/125113/3868847/763/perhimpunan-dokter-gigi-tak-sarankan-polikresulen-untuk-sariawan

Putri, F. (2018). Perhimpunan Dokter Gigi Tak Sarankan Policresulen untuk Sariawan Seharusnya Diencerkan. detikHealth. Diakses 16 Februari 2018, dari https://health.detik.com/read/2018/02/15/150842/3869165/763/pdgi-sebut-policresulen-untuk-sariawan-seharusnya-diencerkan

Departemen Kajian & Aksi Strategis
BEM FF UI 2018
#BersamaBerdedikasi

Tags:

Comments are closed