viostin-ds-dan-enzyplex_20180131_213525Akhir-akhir ini publik dihebohkan oleh tersebarnya surat dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram yang ditujukan kepada BBPOM di Palangkaraya di media sosial. Isi dari surat tertanggal 5 Desember 2017 tersebut perihal Permohonan Uji Rujuk Sampel Suplemen dari dua buah suplemen makanan, yaitu Viostin DS yang diproduksi oleh PT. Pharos Indonesia dengan nomor izin edar (NIE) POM SD.051523771 nomor bets BN C6K994H dan Enzyplex yang diproduksi oleh PT. Medifarma Laboratories dengan NIE DBL7214704016A1 nomor bets 16185101. Surat tersebut menyatakan bahwa kedua produk suplemen tersebut mengandung DNA babi dan telah teruji dengan hasil positif. Menanggapi hal ini, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI mengeluarkan rilis resmi tertanggal 30 Januari 2018. Dalam rilisnya, BPOM menyinggung tentang nomor izin edar obat, hasil positif ditemukannya DNA babi, penghentian produksi dan distribusi, serta pengawasan dan pengamanan berkala.

 

Menilik dari sisi hukum, pasal 4 UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal menyatakan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Menurut pasal 18 ayat (1), bahan yang berasal dari hewan yang diharamkan meliputi: a. bangkai; b. darah; c. babi; dan/atau d. hewan yang disembelih tidak sesuai dengan syariat. Selain itu, pasal 8 UU Perlindungan Konsumen dengan tegas menyatakan bahwa pelaku usaha dilarang keras memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai standar yang diatur sesuai ketentuan peraturan perundangan. Oleh karena itu, putusan BPOM yang meminta agar produk Viostin DS dan Enzyplex yang postif mengandung DNA babi ditarik dari peredaran dan dihentikan produksinya, dirasa tepat.

 

Dilansir dari wawancara ANTARA News dengan Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt. sebagai ahli farmasi, ada sebab ditemukannya DNA babi pada kedua suplemen tersebut. Viostin DS merupakan suplemen untuk penderita gangguan sendi osteoarthritis, yaitu penipisan tulang rawan pada persendian. Chondroitine sulfate, zat aktif dari Viostin DS, adalah zat aktif pembentuk tulang rawan yang dapat diperoleh dari berbagai sumber, salah satunya dari tulang rawan babi. PT. Pharos Indonesia melalui Direktur Komunikasi Korporat, Ida Nurtika, menyatakan bahwa unsur DNA babi merupakan kontaminan pada Kondroitin sulfat yang dipasok dari produsen luar negeri. Pihaknya juga berjanji untuk menarik seluruh produknya di pasaran. Sementara itu, Enzyplex yang merupakan suplemen enzim-enzim pencernaan, sumbernya juga bisa didapatkan dari babi. Menanggapi kasus ini, pihak produsen Enzyplex, PT. Medifarma Laboratories, mengatakan bahwa produk dengan nomor izin edar tersebut merupakan hasil produksi pada tahun 2013 dan proses produksinya sudah dihentikan.

 

Kasus semacam ini bukan pertama kali terjadi. Sebut saja kasus vaksin meningitis pada tahun 2009, serta fatwa MUI mengenai penggunaan vaksin polio khusus (2002) dan vaksin polio oral (2005). Pada tahun 2014, publik juga dihebohkan dengan kasus obat-obatan yang mengandung babi. Menurut keterangan Kementerian Kesehatan, obat-obat tersebut adalah Lovenox injeksi, Fraxiparin injeksi, dan Fuluxum injeksi yang ketiganya mengandung heparin molekul rendah. Terulangnya kasus serupa, bukan berarti BPOM ‘kecolongan lagi’. Hal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jendral Ikatan Apoteker Indonesia, Dra. Aluwi Nirwana Sani, M.Pharm., Apt. Menurutnya, untuk mendeteksi adanya fragmen babi memerlukan alat yang tepat dan ilmu yang tinggi, sehingga juga diperlukan adanya timbal balik dari pihak produsen yaitu berupa sikap jujur.

 

Lebih lanjut Aluwi mengatakan, produsen perlu memberi label ‘mengandung babi’ pada produknya yang memang mengandung bahan tersebut. Ini sesuai dengan Peraturan Kepala Badan POM No. 03.1.23.06.10.5166 tahun 2010 tentang Pencantuman Informasi Asal Bahan Tertentu, Kandungan Alkohol, dan Batas Kedaluwarsa pada Penandaan/Label Obat, Obat Tradisional, Suplemen Makanan, dan Pangan, dimana di dalamnya menyatakan bahwa apabila produk obat, obat tradisional, suplemen makanan, dan pangan mengandung bahan tertentu yang berasal dari babi, maka harus mencantumkan tanda khusus untuk menginformasikan bahwa produk tersebut mengandung babi dan/atau pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi. Sikap terbuka semacam ini juga menjadi penting apabila mengingat masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

 

Bukan tidak mungkin kasus serupa akan terulang kembali, namun kemungkinan ini tentu harus diminimalisir. Ketidakpercayaan yang terbangun dalam diri masyarakat terhadap produk obat-obatan, selanjutnya dapat memberikan dampak buruk bagi kemajuan kesehatan di Indonesia. Berkaca pada kasus vaksin, keraguan masyarakat terhadap status halal produk vaksin menyebabkan isu enggan melakukan vaksinasi merebak. Terkait hal ini, pihak produsen sepertinya harus memberi perhatian lebih dan menyadari arti penting sertifikasi halal bagi produk yang akan dilepas ke pasaran. Selain itu, diperlukan pula keterbukaan dari pihak produsen mengenai kandungan yang ada di dalam produknya. BPOM sebagai badan pengawas produk juga harus bekerja sama menjaga kepercayaan masyarakat dengan memberi pengawasan maksimal terhadap produk-produk yang akan atau sudah beredar di masyarakat.

 

Namun dalam hal memajukan kesehatan Indonesia, masyarakat sendiri harus berperan aktif dengan pintar-pintar dalam menanggapi merebaknya kasus semacam ini. Baiknya masyarakat jangan sampai menutup diri terhadap perkembangan di dunia obat-obatan, atau membiarkan ketakutan atas status halal suatu produk menjadi penghalang bagi upaya menjaga kesehatan diri. Masyarakat harus bersikap terbuka namun selektif terhadap perkembangan bahan obat dan teknologi produksi obat yang ada saat ini.

 

Sumber Foto
http://style.tribunnews.com

Referensi
Medifarma : Enzyplex yang Mengandung Babi Sudah Tidak Diproduksi Sejak 2013 – Info Farmasi Terkini Berbasis Ilmiah dan Praktis. (2018). Info Farmasi Terkini Berbasis Ilmiah dan Praktis. Retrieved 2 February 2018, from http://farmasetika.com/2018/02/01/medifarma-enzyplex-yang-mengandung-babi-sudah-tidak-diproduksi-sejak-2013/

Penjelasan ahli soal kandungan babi dalam Viostin DS dan Enzyplex – ANTARA News. (2018). Antara News. Retrieved 2 February 2018, from https://www.antaranews.com/berita/682445/penjelasan-ahli-soal-kandungan-babi-dalam-viostin-ds-dan-enzyplex

Saputri, M. (2018). Viostin DS & Enzyplex: Mengapa Kasus Obat Mengandung Babi Berulang?tirto.id. Retrieved 2 February 2018, from https://tirto.id/viostin-ds-amp-enzyplex-mengapa-kasus-obat-mengandung-babi-berulang-cD9v

Apinino, R. (2018). Pharos Mengakui Ada Kontaminan DNA Babi Pada Viostin DStirto.id. Retrieved 2 February 2018, from https://tirto.id/pharos-mengakui-ada-kontaminan-dna-babi-pada-viostin-ds-cD6V

Heboh Kasus DNA Babi Pada Obat, Ini 2 UU yang Dilanggar Produsen. (2018). hukumonline.com. Retrieved 2 February 2018, from http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5a7426a1edc41/heboh-kasus-dna-babi-pada-obat–ini-2-uu-yang-dilanggar-produsen

Apinino, A. (2018). Ikatan Apoteker: Konsumen Harus Tahu Obat yang Mengandung Babitirto.id. Retrieved 2 February 2018, from https://tirto.id/ikatan-apoteker-konsumen-harus-tahu-obat-yang-mengandung-babi-cEb2

 

Departemen Kajian & Aksi Strategis
BEM FF UI 2018
#BersamaBerdedikasi

 

Tags:

Comments are closed